98 Tahun Sumpah Pemuda: Menjaga Persatuan, Merawat Lingkungan untuk Masa Depan

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan. Pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang berkumpul dengan satu tekad: membangun persatuan untuk masa depan Indonesia.
Sembilan puluh delapan tahun kemudian, Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda. Perjuangan tidak lagi hanya berkaitan dengan persatuan dan kemerdekaan bangsa, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa tanah air yang telah diperjuangkan tetap menjadi tempat yang layak untuk hidup bagi generasi mendatang.
Di tengah persoalan sampah, pencemaran lingkungan, perubahan iklim, dan tekanan terhadap sumber daya alam, muncul sebuah pertanyaan: apakah semangat mencintai tanah air sudah tercermin dalam cara kita memperlakukan lingkungan?
Pertanyaan tersebut mengajak kita untuk memaknai kembali Sumpah Pemuda. Bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan sebagai inspirasi untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab bersama terhadap masa depan Indonesia.
Memaknai Sumpah Pemuda dalam Konteks Lingkungan
Sumpah Pemuda lahir melalui Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928. Peristiwa ini mempertemukan berbagai organisasi pemuda dengan latar belakang kedaerahan berbeda, tetapi memiliki kesamaan cita-cita untuk membangun persatuan melalui pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan hingga saat ini, termasuk ketika kita menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Mengakui satu tanah air dapat dimaknai sebagai kesadaran bahwa Indonesia bukan hanya wilayah tempat kita tinggal, tetapi juga ruang kehidupan yang perlu dijaga. Hutan, sungai, laut, tanah, dan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang keberlanjutannya bergantung pada keputusan dan tindakan kita bersama.
Mengakui satu bangsa mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal batas administratif maupun kelompok sosial. Pencemaran sungai di suatu wilayah dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah lain. Demikian pula, perubahan iklim merupakan persoalan lintas wilayah yang membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
Sementara itu, menjunjung bahasa persatuan dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk membangun pemahaman dan gerakan bersama. Pengetahuan tentang lingkungan perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar dapat mendorong partisipasi masyarakat secara lebih luas.
Dengan demikian, menjaga lingkungan dapat menjadi salah satu wujud nyata nasionalisme pada masa kini. Mencintai Indonesia berarti turut menjaga keberlanjutan kehidupan yang ada di dalamnya.
Tantangan Lingkungan dan Tanggung Jawab Generasi Masa Kini
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, tetapi juga menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaannya. Salah satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah sampah.
Berdasarkan data indikatif Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah yang dilaporkan oleh 319 kabupaten/kota pada tahun 2025 mencapai sekitar 34,17 juta ton per tahun. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan akan sistem pengelolaan sampah yang efektif, sekaligus menggambarkan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan pengumpulan dan pembuangan.
Sebagian sampah masih berpotensi tidak tertangani secara optimal, sementara material yang sebenarnya memiliki nilai guna dapat kehilangan potensi pemanfaatannya ketika tercampur dan tidak dipilah sejak sumber.
Di sisi lain, perubahan iklim juga membawa tantangan jangka panjang. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa keputusan serta tindakan mitigasi dan adaptasi yang dilakukan saat ini akan memengaruhi kehidupan manusia dan kondisi ekosistem hingga masa mendatang.
Artinya, berbagai keputusan yang kita ambil hari ini, mulai dari penggunaan sumber daya, pengelolaan sampah, hingga pengendalian pencemaran, turut menentukan kondisi lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Persoalan lingkungan bukan hanya tentang apa yang terjadi saat ini, melainkan juga tentang masa depan seperti apa yang ingin kita tinggalkan?
Pemuda sebagai Penggerak Perubahan
Sejarah Sumpah Pemuda menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kemampuan untuk mendorong perubahan melalui keberanian berpikir, membangun kesadaran, dan menyatukan tujuan.
Dalam konteks lingkungan, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui sikap kritis terhadap persoalan yang terjadi di sekitar kita.
Ketika melihat sampah dibuang sembarangan, misalnya, pemuda dapat mempertanyakan mengapa sistem pengelolaannya belum berjalan dengan baik. Ketika menemukan praktik yang berpotensi mencemari lingkungan, pemuda dapat mendorong perbaikan berdasarkan pengetahuan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keterlibatan pemuda dalam gerakan lingkungan juga dapat hadir melalui berbagai bentuk tindakan, mulai dari mengikuti kegiatan komunitas hingga mempertanyakan kebijakan dan praktik yang dianggap belum berkelanjutan.
Hal ini menunjukkan bahwa peran pemuda tidak terbatas pada mengikuti kegiatan atau kampanye lingkungan. Pemuda juga memiliki kesempatan untuk menjadi penggerak perubahan melalui penelitian, inovasi, pengawasan sosial, dan pengembangan solusi.
Namun, sikap kritis perlu berjalan bersama kemampuan untuk memahami persoalan secara menyeluruh. Tidak cukup hanya menunjukkan bahwa suatu kondisi bermasalah; diperlukan pula kemauan untuk mempelajari penyebabnya, merumuskan alternatif penyelesaian, dan mengawal perubahan agar benar-benar memberikan manfaat.
Karena itu, generasi muda perlu didorong untuk tidak hanya peduli, tetapi juga memiliki pengetahuan, keterampilan, dan ruang partisipasi yang memungkinkan mereka berkontribusi secara nyata.
Dari Kepedulian Menuju Solusi Lingkungan Berkelanjutan
Kepedulian terhadap lingkungan merupakan awal yang penting, tetapi perubahan yang berkelanjutan membutuhkan tindakan yang terencana dan sistematis.
Dalam pengelolaan sampah, misalnya, kegiatan membersihkan lingkungan memang dapat memberikan dampak positif. Namun, apabila tidak diikuti dengan pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengolahan, pemanfaatan kembali, dan penanganan residu yang tepat, persoalan serupa berpotensi terus berulang. Sehingga, penting untuk melakukan upaya pencegahan timbulan sampah, perbaikan sistem pengelolaan, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Pendekatan ekonomi sirkular mendorong agar material dan sumber daya dapat dimanfaatkan selama mungkin, sehingga jumlah sampah yang dihasilkan dan kebutuhan terhadap sumber daya baru dapat dikurangi.
Dalam praktiknya, perubahan ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Masyarakat dapat berkontribusi melalui pengurangan dan pemilahan sampah. Dunia usaha dan industri dapat mengembangkan proses produksi yang lebih efisien serta pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Pemerintah berperan dalam penyediaan kebijakan, infrastruktur, dan pengawasan. Sementara itu, perguruan tinggi, peneliti, dan penyedia teknologi dapat mendukung pengembangan solusi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Generasi muda memiliki ruang untuk terlibat di seluruh proses tersebut, baik melalui perubahan perilaku, kegiatan komunitas, penelitian, kewirausahaan, maupun penerapan teknologi lingkungan.
Namun, tanggung jawab menjaga lingkungan tidak seharusnya dibebankan hanya kepada generasi muda. Diperlukan dukungan kebijakan, kesempatan berpartisipasi, serta kolaborasi lintas sektor agar gagasan dan inovasi yang muncul dapat berkembang menjadi perubahan yang nyata.
Semangat yang Sama untuk Masa Depan Indonesia
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kesadaran untuk memiliki tujuan bersama.
Pada 1928, para pemuda berusaha melampaui perbedaan demi membangun persatuan bangsa. Pada 2026, semangat tersebut dapat menjadi inspirasi untuk melampaui kepentingan masing-masing dan bekerja bersama menghadapi persoalan lingkungan.
Membangun Indonesia yang berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Langkah sederhana seperti mengurangi sampah, menggunakan sumber daya secara bijak, menyampaikan kepedulian terhadap pencemaran, serta mendukung inovasi lingkungan merupakan bagian dari kontribusi yang dapat dilakukan.
Meski demikian, tindakan individu perlu berjalan seiring dengan perbaikan sistem, kebijakan, dan praktik pembangunan agar menghasilkan dampak yang lebih luas.
Sembilan puluh delapan tahun setelah Sumpah Pemuda, semangat persatuan tetap memiliki makna yang kuat. Kita tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan bangsa, tetapi juga merawat tanah air agar tetap mampu mendukung kehidupan generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Karena mencintai Indonesia bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang keberanian menjaga masa depannya

