Header Background

Artikel

Short brief of the page

Kembali ke Artikel
Artikel9 September 20265 menit baca

Mengubah Sampah Menjadi Solusi: Langkah ETS Menuju Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Dari Zero Waste hingga Digitalisasi Pengelolaan Sampah di Kawasan perkantoran

Mengubah Sampah Menjadi Solusi: Langkah ETS Menuju Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Ketika Sampah Tidak Lagi Berakhir di Tempat Pembuangan

Sampah bukan sekedar persoalan tentang apa yang harus di buang. Ia merupakan bagian dari siklus konsumsi dan produksi yang perlu dikelola secara bertanggung jawab, sejak sampah dihasilkan, dikumpulkan, diangkut, dipilah, diolah hingga dimanfaatkan kembali. Karena itu, pengelolaan sampah berkelanjutan menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus membangun pola pengelolaan yang lebih efisien.

Artikel ini menempatkan isu pengelolaan sampah sebagai perhatian utama, dengan fokus pada pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan perkantoran Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU). Dari konsep Zero Waste, potret persampahan di Indonesia, hingga pemanfaatan teknologi, pembahasan tersebut menunjukkan bahwa Solusi sampah membutuhkan perubahan cara pandang dan system yang terintegrasi.

Pengelolaan Sampah Berkelanjutan: Lebih dari Sekedar Mengangkut

Pengelolaan sampah pada dasarnya mencangkup rangkaian kegiatan mulai dari saat sampah diproduksi hingga proses pembuangan. Namun, pendekatan berkelanjutan menuntut lebih dari sekedar mengumpulkan dan memindahkan sampah. Aspek lingkungan, sosial, ekonomi, teknis, kebijakan, dan kelembagaan perlu diperhatikan secara bersama-sama.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting Ketika aktivitas konsumsi dan produksi terus meningkat. Pengelolaan yang baik tidak hanya bertujuan mengurangi dampak negatif sampah, tetapi juga membuka peluang agar material yang masih memiliki nilai dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan.

Zero Waste dan Prinsip 5R Salah satu pendekatan yang menjadi dasar pengelolaan sampah berkelanjutan adalah Zero Waste. Konsep ini menekankan pengurangan produksi sampah semaksimal mungkin dan pemaksimalan siklus sumber daya agar material tidak berakhir sia-sia Dalam artikel ini, Prinsip 5R ditampilkan sebagai berikut: Refuse – Mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Reduce – Mengurangi penggunaan produk yang merusak lingkungan Reuse – Menggunakan kembali material atau sampah untuk fungsi yang masih memungkinkan. Recycle – Mendaur ulang sampah secara bertanggung jawab. Rot – Mengelola sampah organic melalui proses pembusukan untuk dijadikan kompos.

Bagi ETS, Zero Waste bukan hanya sebuah konsep, melainkan bagian dari praktik pengelolaan sampah yang diarahkan untuk mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan dan kehidupan manusia.

Potret Persampahan Indonesia: Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan

Indonesia menghadapi tantangan persampahan seiring besarnya jumlah penduduk dan meningkatnya aktivitas Masyarakat. Disebutkan bahwa sekitar 85.000 ton sampah dihasilkan setiap hari dan diperkirakan meningkat menjadi 150.000 ton per hari pada 2025. Jumlah sampah nasional sekitar 68,5 juta ton pada 2021 dan 70 juta ton pada 2022

Di sisi lain, masih terdapat sampah yang belum terkelola secara berkelanjutan. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA) dan meningkatkan risiki pencemaran lingkungan. Karena itu, pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, pengolahan, serta daur ulang menjadi bagian penting dari solusi.

Mengapa Pengelolaan Sampah Perkantoran Penting?

Kawasan perkantoran merupakan salah satu ruang aktivitas yang menghasilkan sampah setiap hari. Dokumen fisik, kardus, tinta printer, kemasan makanan dan minuman, hingga sampah organic dari kantin merupakan bagian dari material yang perlu dikelola. Sampah perkantoran cenderung didominasi sampah anorganik, sementara aktivitas kantin tetap menghasilkan sampah organic. Kondisi ini membuat pemilahan menjadi tahap yang sangat penting untuk menentukan material yang dapat didaur ulang maupun yang memerlukan penanganan berbeda.

Penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R), yang diawali dengan pemilahan dan pewadahan yang tepat dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA. Namun, keberhasilan pengelolaan tidak hanya bergantung pada system; kesadaran dan kedisiplinan setiap orang di Kawasan perkantoran juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Kementerian PUPR dan Kebutuhan akan Sistem yang Lebih Optimal Kompleks perkantoran Kementerian PUPR di Jakarta Selatan digambarkan sebagai Kawasan yang menghasilkan sekitar 1 ton sampah per hari. Aktivitas perkantoran menghasilkan berbagai jenis material, termasuk kertas, kardus, tinta printer, serta sampah dari aktivitas makanan dan minuman.

Meskipun berbagai metode pengelolaan telah dilakukan, masih terdapat kebutuhan untuk mengoptimalkan pewasahan serta meningkatkan edukasi kepada penghasil dan pengangkutan sampah mengenai pemilahan, pewadahan, dan nilai ekonomi dari material yang dikelola.

ETS Menghadirkan Solusi Zero Waste to Landfill PT. Enviro Total Solusi hadir dengan pendekatan pengelolaan sampah yang mengoptimalkan skema Zero Waste to Landfill. Dalam pendekatan ini, proses pengelolaan diarahkan untuk meniadakan pembakaran, pembuangan, dan penimbunan yang dapat membahayakan lingkungan.

Skema pengelolaan sampah mencakup beberapa tahapan utama: Pengumpulan – Sampah dikumpulkan dari Kawasan perkantoran seperti gedung, taman, dan kantin. Pengangkutan – Sampah yang telah dikumpulkan dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk pencatatan, penimbangan, pemilahan, dan klasifikasi. Pemilahan dan pengolahan – Sampah dipilah sesuai jenisnya. Material yang dapat didaur ulang diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Pengelolaan lanjutan – Material yang telah dipilah diarahkan ke proses pengelolaan sesuai karakteristiknya agar tidak berakhir sebagai timbunan yan tidak perlu.

ETS juga menekankan optimalisasi pewadahan di titik penghasilan sampah dengan penggunaan minimal empat kantong sampah dengan warna berbeda, disertai edukasi kepada penghasil sampah mengenai dampak sampah, pentingnya disiplin, dan memanfaat ekonomi dari pengelolaan yang dilakukan.

Teknologi Sebagai Penguat Tata Kelola: E-Sabutta Pengelolaan sampah yang semakin kompleks membutuhkan dukungan teknologi. Karena itu, digitalisasi menjadi salah satu ciri Solusi yang ditawarkan ETS. Salah satu inovasinya adalah e-sabutta, singkatan dari Sampah Butuh Kita.

E-Sabutta dikembangkan sebagai aplikasi pendamping dalam kegiatan pemilahan sampah di bank sampah. Melalui aplikasi tersebut, petugas dapat melakukan scanning pada TPST yang telah terintegrasi, mencatat jenis dan berat sampah, kemudian mendukung proses pemilahan dan penimbangan.

ETS telah melakukan sosialisasi penggunaan e-sabutta kepada petugas sejak Februari 2022. Pada 12 Juli 2022, ETS juga mengadakan sosialisasi bank sampah e-sabutta yang mencakup pengenalan aplikasi serta demonstrasi penggunaannya.

Membangun Lingkungan Bebas Sampah Dimulai dari Sistem dan Kebiasaan Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Sistem pengelolaan yang baik perlu berjalan Bersama dengan kebiasaan memilah, mengurangi penggunaan material yang tidak diperlukan, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mendaur ulang material yang memiliki nilai guna.

Pengalaman ETS yang menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berkelanjutan dapat dibangun melalui kombinasi antara operasional yang terintegrasi, edukasi, pemilahan, pemanfaatan kembali material, serta dukungan digitalisasi.

Pada akhirnya, tujuan pengelolaan sampah bukan hanya mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA. Lebih jauh, Upaya ini merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat dan nyaman bagi manusia serta makhluk hidup lainnya.